Welcome to My Blog

NAMA : TRISYATI IKA PRATIWI
JURUSAN : MP 2012 (A)
NIM : 1445125838

Kamis, 27 November 2014

Topik 7 - Desain Pelatihan

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  

Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh..
Pada kesempatan kali ini saya akan membagi materi yang saya dapat pada Mata Kuliah Manajemen Pendidikan dan Pelatihan pada hari Senin 10 November 2014 mengenai Desain Pelatihan.

Desain Pelatihan
A.    Perumusan tujuan dan manfaat pelatihan
Manfaat pelatihan bagi sebuah instansi sudah pasti sangat berpengaruh besar terhadap instansi itu sendiri dan juga karyawan pada khususnya. Untuk instansi yang mempunyai orientasi jangka panjang, sangat memerlukan pelatihan untuk karyawannya yang dilakukan secara kontinyu dan terprogram sesuai dengan kebutuhan masing-masing divisi atau pun tim kerja di dalam divisi dan manajemen.

Tujuan pelatihan tersebut akan terlaksana dengan baik apabila pelatihan diberikan secara tepat dan adanya kerjasama yang baik antara karyawan maupun pimpinan atau manajemen, dengan melakukan analisa kebutuhan pelatihan secara tepat sehingga benar-benar bermanfaat dan memenuhi kebutuhan instansi untuk semakin berkembang.

Perumusan tujuan dan manfaat pelatihan sebaiknya mengikuti kaidah seperti berikut.
1.      Menunjukkan sasaran kinerja yang mesti dapat dilakukan oleh partisipan setelah mengikuti kegiatan pelatihan
2.      Sasaran kinerja sebaiknya bersifat spesifik, relevan dengan tugas, dan dituliskan dengan jelas
3.      Sasaran kinerja mengacu pada profil kompetensi yang telah ditetapkan
4.      Sebaiknya diawali dengan kata kerja
B.     Perumusan Kurikulum Pelatihan
Salah satu aspek yang mendorong keberhasilan sebuah program pelatihan adalah adanya materi atau bahan pelatihan yang bermutu bagus. Faktor lain yang juga berperan adalah mutu pelatih yang baik dan juga adanya proses monitoring pasca kegiatan pelatihan yang sistematis. Penyusunan materi pelatihan yang bagus dimulai dengan menentukan tujuan pelatihan secara jelas.

Setelah tujuan dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah menyusun kerangka kurikulum pelatihan . Langkah dalam menyusun kurikulum pelatihan adalah sebagai berikut :
1.      Sebutkan judul pelatihan secara ringkas, jelas dan mencerminkan isi training
2.      Uraikan tujuan pelatihan
3.      Kembangkan dan jelaskan sejumlah topik pokok pelatihan - kemudian masing-masing topik tersebut, diuraikan lagi secara lebih detil dalam beberapa sub-topik.
4.      Sebutkan pula durasi untuk keseluruhan pelatihan dan juga untuk setiap topiknya
Sebutkan juga model pemberian pelatihan yang akan dilakukan

C.    Penyusunan jadwal
Jadwal diklat disusun berdasarkan kalender akademik diklat, struktur kompetensi, serta instruktur dan administrasi diklat. Sebelumnya pelaksanaan diklat dilaksanakan ditentukan mata diklat, instruktur yang mengajar dan alokasi waktu penyajian yang disesuaikan dengan kalender program diklat.
Jadwal pelaksanaan pelatihan sebaiknya disusun berdasarkan pada beberapa syarat berikut ini, yaitu :
1.      Disesuaikan dengan kalender diklat
2.      Durasi waktu disesuaikan dengan capaian kompetensi yang diinginkan
3.      Calon peserta diklat sudah ada kepastian
4.      Jadwal instruktur yang sudah pasti untuk mengisi materi
5.      Sosialisasi jadwal kegiatan diklat cukup dan tepat sasaran

D.    Training climate
Training climate atau yang biasa disebut dengan suasana pelatihan ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu suasana pelatihan yang baik dan suasana pelatihan yang tidak baik.

Suasana pelatihan yang baik dapat terwujud apabila sifat pelatih yang mudah akrab serta dekat dan peduli dengan peserta, dan juga terbuka dan tidak segan berbagi wewenang serta tanggung jawab dan tentunya didukung dengan sifat peserta yang ramah, bebas berekspresi namun sopan, serta terbuka yang membuat suasana pelatihan menjadi bebas dan terbuka sehingga pelatihan yang dilaksanakan penuh dengan semangat, saling memuaskan, saling bekerjasama, saling menolong, memiliki, dan juga saling percaya.

Adapun suasana pelatihan yang tidak baik dapat terwujud apabila sifat pelatih yang tidak ramah, selalu mencela, sombong/angkuh, dan persuasi/suka mendesak yang tentunya didukung dengan sifat peserta yang memberontak, egois, selalu meremehkan, serta pemarah yang membuat suasana pelatihan menjadi mencemaskan dan defensif/bertahan sehingga pelatihan yang dilaksanakan pasif, timbul frustasi dan konflik, serta saling menjauh dan saling mencurigai.

E.     Trainees learning style
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola, dan menyampaikan informasi, maka cara belajar peserta pelatihan terbagi menjadi 3, yaitu :
1.      Gaya belajar visual, gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu pengetahuan melalui tampilan/gambar
2.      Gaya belajar auditorial, gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu pengetahuan dengan mendengarkan langsung materi yang disampaikan
3.      Gaya belajar kinestetik, gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu pengetahuan dengan mempraktikan langsung materi yang dijelaskan
4.      Gaya belajar converger, yaitu peserta yang mengutamakan konsep-konsep dan aktif melakukan eksperimen
5.      Gaya belajar diverger, yaitu peserta yang mengutamakan pengalaman konkrit. Peserta memiliki imajinasi yang kuat
6.      Gaya belajar assimilator, yaitu peserta yang mengutamakan konsep-konsep dan mengaplikasikannya melalui pengamatan
Gaya belajar accommodator, yaitu peserta yang mengutamakan pengalaman konkrit dan selalu melakukan eksperimen.

F.     Training strategies
Salah satu faktor yang ikut menentukan efektivitas pelaksanaan program pelatihan adalah ketepatan penggunaan strategi atau teknik pelaksanaan pelatihan. Akan tetapi, pemilihan strategi bukan pekerjaan yang mudah karena tidak ada strategi yang tepat untuk berbagai situasi. Dalam pelaksanaan pelatihan, perlu diperhatikan hubungan antara pelatih dengan peserta. Hubungan di antara keduanya dapat berupa hubungan interaktif, proaktif, dan juga reaktif.

G.    Training topics
Pemilihan topik pelatihan yang tepat sangat mendukung jalannya pelaksanaan pelatihan yang baik pula. Topik pelatihan termasuk pada kegiatan perencanaan program pelatihan. Menyusun topik pelatihan harus sesuai dengan metode dan sarana pelatihan yang akan digunakan.

Dalam topik pelatihan, kita harus mengetahui maksud (apa yang harus dicapai), metode (bagaimana mencapai tujuan), serta format (dalam keadaan bagaimana penentuan topik yang ingin dicapai). Pemilihan topik pelatihan seyogyanya harus disesuaikan dengan dan sangat bergantung pada analisis kebutuhan pelatihan. Selain itu, materi atau topik harus disajikan dengan dalam penyajian yang diorganisasikan terlebih dahulu supaya dapat saling dihubungkan dan mengikuti aturan yang logis

Materi pelatihan harus disajikan sedemikian rupa agar menimbulkan efek memori yang mendukung terjadinya proses pentransferan ilmu dan juga penyajian materi atau topik pelatihan harus melalui metode pembelajaran dan pengalaman yang mendukung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar