بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh..
Pada kesempatan kali ini saya akan
membagi materi yang saya dapat pada Mata Kuliah Manajemen Pendidikan dan
Pelatihan pada hari Senin 10 November 2014 mengenai Desain Pelatihan.
Desain Pelatihan
A. Perumusan
tujuan dan manfaat pelatihan
Manfaat
pelatihan bagi sebuah instansi sudah pasti sangat berpengaruh besar terhadap instansi
itu sendiri dan juga karyawan pada khususnya. Untuk instansi yang mempunyai
orientasi jangka panjang, sangat memerlukan pelatihan untuk karyawannya yang
dilakukan secara kontinyu dan terprogram sesuai dengan kebutuhan masing-masing
divisi atau pun tim kerja di dalam divisi dan manajemen.
Tujuan
pelatihan tersebut akan terlaksana dengan baik apabila pelatihan diberikan
secara tepat dan adanya kerjasama yang baik antara karyawan maupun pimpinan
atau manajemen,
dengan melakukan analisa kebutuhan pelatihan secara tepat sehingga benar-benar
bermanfaat dan memenuhi kebutuhan instansi untuk semakin berkembang.
Perumusan
tujuan dan manfaat
pelatihan
sebaiknya mengikuti kaidah seperti berikut.
1.
Menunjukkan sasaran kinerja yang mesti dapat dilakukan oleh
partisipan setelah mengikuti kegiatan pelatihan
2.
Sasaran kinerja sebaiknya bersifat spesifik, relevan dengan
tugas, dan dituliskan dengan jelas
3.
Sasaran kinerja mengacu pada profil kompetensi yang telah
ditetapkan
4.
Sebaiknya diawali dengan kata kerja
B.
Perumusan
Kurikulum Pelatihan
Salah
satu aspek yang mendorong keberhasilan sebuah program pelatihan adalah adanya materi atau bahan pelatihan yang bermutu bagus. Faktor lain
yang juga berperan adalah mutu pelatih yang baik dan juga adanya proses monitoring pasca kegiatan pelatihan yang sistematis. Penyusunan materi pelatihan yang bagus dimulai dengan menentukan
tujuan pelatihan secara jelas.
Setelah
tujuan dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah menyusun kerangka kurikulum
pelatihan .
Langkah dalam menyusun kurikulum
pelatihan
adalah sebagai
berikut
:
1. Sebutkan judul pelatihan secara
ringkas, jelas dan mencerminkan isi training
2. Uraikan tujuan pelatihan
3. Kembangkan dan jelaskan sejumlah
topik pokok pelatihan
- kemudian masing-masing topik
tersebut, diuraikan lagi secara lebih detil dalam beberapa sub-topik.
4. Sebutkan pula durasi untuk
keseluruhan pelatihan
dan juga untuk setiap topiknya
Sebutkan juga model pemberian pelatihan yang akan dilakukan
C.
Penyusunan
jadwal
Jadwal diklat disusun
berdasarkan kalender akademik diklat, struktur kompetensi, serta instruktur dan
administrasi diklat. Sebelumnya pelaksanaan diklat dilaksanakan ditentukan mata
diklat, instruktur yang mengajar dan alokasi waktu penyajian yang disesuaikan dengan
kalender program diklat.
Jadwal pelaksanaan pelatihan
sebaiknya disusun berdasarkan pada beberapa syarat berikut ini, yaitu :
1.
Disesuaikan
dengan kalender diklat
2.
Durasi waktu
disesuaikan dengan capaian kompetensi yang diinginkan
3.
Calon peserta
diklat sudah ada kepastian
4.
Jadwal
instruktur yang sudah pasti untuk mengisi materi
5.
Sosialisasi
jadwal kegiatan diklat cukup dan tepat sasaran
D.
Training
climate
Training climate atau yang
biasa disebut dengan suasana pelatihan ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu
suasana pelatihan yang baik dan suasana pelatihan yang tidak baik.
Suasana pelatihan yang baik
dapat terwujud apabila sifat pelatih yang mudah akrab serta dekat dan peduli
dengan peserta, dan juga terbuka dan tidak segan berbagi wewenang serta
tanggung jawab dan tentunya didukung dengan sifat peserta yang ramah, bebas
berekspresi namun sopan, serta terbuka yang membuat suasana pelatihan menjadi
bebas dan terbuka sehingga pelatihan yang dilaksanakan penuh dengan semangat,
saling memuaskan, saling bekerjasama, saling menolong, memiliki, dan juga
saling percaya.
Adapun suasana pelatihan
yang tidak baik dapat terwujud apabila sifat pelatih yang tidak ramah, selalu
mencela, sombong/angkuh, dan persuasi/suka mendesak yang tentunya didukung
dengan sifat peserta yang memberontak, egois, selalu meremehkan, serta pemarah
yang membuat suasana pelatihan menjadi mencemaskan dan defensif/bertahan
sehingga pelatihan yang dilaksanakan pasif, timbul frustasi dan konflik, serta
saling menjauh dan saling mencurigai.
E.
Trainees learning style
Berdasarkan kemampuan yang
dimiliki otak dalam menyerap, mengelola, dan menyampaikan informasi, maka cara
belajar peserta pelatihan terbagi menjadi 3, yaitu :
1.
Gaya belajar visual,
gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu pengetahuan melalui
tampilan/gambar
2.
Gaya belajar
auditorial, gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu
pengetahuan dengan mendengarkan langsung materi yang disampaikan
3.
Gaya belajar
kinestetik, gaya belajar seperti ini memudahkan peserta menyerap ilmu
pengetahuan dengan mempraktikan langsung materi yang dijelaskan
4.
Gaya belajar
converger, yaitu peserta yang mengutamakan konsep-konsep dan aktif melakukan
eksperimen
5.
Gaya belajar diverger,
yaitu peserta yang mengutamakan pengalaman konkrit. Peserta memiliki imajinasi
yang kuat
6.
Gaya belajar
assimilator, yaitu peserta yang mengutamakan konsep-konsep dan
mengaplikasikannya melalui pengamatan
Gaya
belajar accommodator, yaitu peserta yang mengutamakan pengalaman konkrit dan
selalu melakukan eksperimen.
F.
Training strategies
Salah satu faktor yang ikut
menentukan efektivitas pelaksanaan program pelatihan adalah ketepatan
penggunaan strategi atau teknik pelaksanaan pelatihan. Akan tetapi, pemilihan
strategi bukan pekerjaan yang mudah karena tidak ada strategi yang tepat untuk
berbagai situasi. Dalam pelaksanaan pelatihan, perlu diperhatikan hubungan
antara pelatih dengan peserta. Hubungan di antara keduanya dapat berupa
hubungan interaktif, proaktif, dan juga reaktif.
G. Training topics
Pemilihan topik pelatihan
yang tepat sangat mendukung jalannya pelaksanaan pelatihan yang baik pula.
Topik pelatihan termasuk pada kegiatan perencanaan program pelatihan. Menyusun
topik pelatihan harus sesuai dengan metode dan sarana pelatihan yang akan
digunakan.
Dalam topik pelatihan, kita
harus mengetahui maksud (apa yang harus dicapai), metode (bagaimana mencapai
tujuan), serta format (dalam keadaan bagaimana penentuan topik yang ingin
dicapai). Pemilihan topik pelatihan seyogyanya harus disesuaikan dengan dan
sangat bergantung pada analisis kebutuhan pelatihan. Selain itu, materi atau
topik harus disajikan dengan dalam penyajian yang diorganisasikan terlebih
dahulu supaya dapat saling dihubungkan dan mengikuti aturan yang logis
Materi pelatihan harus
disajikan sedemikian rupa agar menimbulkan efek memori yang mendukung
terjadinya proses pentransferan ilmu dan juga penyajian materi atau topik
pelatihan harus melalui metode pembelajaran dan pengalaman yang mendukung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar